. FazthaBlog: Hidupku Hanya dalam Hitungan Hari

Senin, 18 April 2011

Hidupku Hanya dalam Hitungan Hari

Hidupku Hanya dalam Hitungan Hari


Namaku Karbo Glukony. Teman-teman memanggilku Karbo. Kulitku berwarna putih.
Suatu pagi, aku dipaksa keluar dari rumahku. Aku tak tahu apa yang terjadi. Akan tetapi, pagi itu seluruh rumah di dekat rumahku rusak dan seluruh penghuninya keluar. Panik, itulah yang kami rasakan. Sebelumnya, tak ada pemberitahuan bahwa akan ada penggusuran besar-besaran seperti ini. Tak berapa lama kemudian, aku bersama yang lainnya dimasukkan ke dalam sebuah benda berwarna putih dan diikat. Pengap, gerah, dan gelisah !
Di tempat ini, aku berkenalan dengan seseorang yang sebelumnya tak pernah kulihat. “Hai, namamu siapa ?” tanyaku.
“Oh ya. Namaku Hydrit Sakary,”jawabnya. “Oh, berarti jenismu berbeda denganku. Aku bernama Karbo Glukony. Kamu juga terkena penggusuran sepertiku”? balasku.
“Ya, aku terkena penggusuran juga. Aku dan keluargaku terpencar. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya dapat pasrah kepada Tuhan,” ucapnya.
Hari itu, aku habiskan waktu untuk bercengkrama dengan Hydrit. Kami saling berbagi pengalaman mengenai kejadian penggusuranku. Dari percakapan itulah aku tahu bahwa Hydrit sudah berusia 120 hari, sedangkan aku 125 hari. Aku sudah tak memiliki keluarga. Ayah dan ibuku pergi dari rumah ketika aku berusia 60 hari. Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Akhirnya, setelah berhari-hari dalam keadaan gelap gulita, kami dapat melihat cahaya matahari. Akan tetapi, tiba-tiba, sebuah benda keras menghantam kami. Aku terpisah dari Hydrit. Aku kembali masuk ke dalam sebuah benda gelap. Aku pasrah menerima keadaan ini.
Di sebuah benda berbentuk bulat, aku berkenalan dengan banyak kawan yang berbeda bentuk. Mereka bernama Protein Amino dan Lipid Glisy.
Kami lalu bersama-sama masuk ke dalam sebuah lubang besar. Di dalam lubang tersebut, terdapat lendir-lendir yang membuatku jijik. Teman-temanku dapat dengan mudah masuk ke dalam labirin selanjutnya. Akan tetapi, aku ditaha dulu. Aku harus mendapat kartu identitas untuk masuk ke dalam labirin. Akhirnya, aku pun mendapat kartu identitas itu. Akan tetapi, namaku harus diubah menjadi Maltosa. Tubuhku pun menjadi lebih kecil karena terkena cairan ptialin.
Di tempat tersebut aku berkenalan dengan Hydro Ocsigy dan Vitamin. Bersama mereka, aku masuk ke dalam labirin selanjutnya.
Di dalam labirin ini, kami didorong oleh Pasukan Peristaltik sehingga dalam waktu 6 detik kami sudah ada dalam ruangan berbau asam. Di dalam ruangan ini, aku melihat pembantaian besar-besaran para bakteri oleh para Pasukan Berinisial HCI. Sangat mengerikan, namun aku dipersilakan masuk ke labirin selanjutnya oleh para penjaga.
Di labirin, aku kembali bertemu dengan Protein Amino. Akan tetapi, dia pun sudah berganti nama menjadi Polipeptida. Tubuhnya pun menjadi lebih kecil akibat dari cairan Pepsin. Kemudian, aku bertanya kepada dia, “Poli, Lipid mana ? Bukankah tadi dia ada bersamamu ?”
“Berdoalah, Tosa. Semoga dia masih hidup, karena ketika aku ditahan oleh penjaga untuk berganti identitas, dia sudah masuk ke dalam labirin selanjutnya !”
Kemudian, aku ingat kepada kedua teman baruku, “Oh, ya Poli, aku punya dua teman baru lagi. Yang ini bernama Hydro Ocsigy dan satu lagi bernama Vitamin.”
Poli lalu menjawab, “Salam kenal! Namaku Polipeptida.”
Kami berempat kemudian masuk ke dalam ruangan yang bernama Duodenum. Di ruangan ini, kami disemprot oleh cairan yang berbeda-beda. Aku disemprot oleh cairan Amilase. Poli disemprot dengan cairan tripsin dan kimotripsin. Aku kasihan melihat Poli. Dia diubah menjadi lebih kecil dan setelah itu disemprot lagi oleh cairan aminopeptidase dan karboksipeptidase. Namanya pun diubah lagi menjadi Asam Amino. Amino terlihat sangat mungil sekarang.
Kami lalu berjalan lagi bersama menuju jejenum. Di tempat ini, kami bertemu lagi dengan Lipid. Dia sudah terbagi tiga menjadi Asam Lemak, Gliserol, dan Gliserida. Lipid terbagi menjadi tiga akibat semprotan cairan Lipase. Kami langsung berpelukan. Sekarang, kami menjadi bertujuh, aku, Amino, Hydro, Vitamin, Asam Lemak, Gliserol, dan Gliserida. Kami “berfoto-foto” dulu untuk mengenang saat-saat mengharukan ini. Kami lalu berjanji agar masing-masing dari kami dapat berguna bagi yang lainnya.
Belum puas kami menghabiskan rindu, kami diberi tahu oleh petugas agar bersiap siap untuk diberangkatkan ke daerah baru sesuai jenis kami. Aku, Amino, Asam Lemak, Gliserol, dan Gliserida akan diberangkatkan menuju Ileum. Sedangkan Hydro dan Vitamin akan diberangkatkan menuju Colon. Peristiwa tersebut sangat mengharukan sekaligus menyedihkan.
Peristiwa itu mengharukan karena kami akan berpisah. Peristiwa itu menyedihkan karena ini akan menjadi akhir dari hidup kami. Kami akan di hancurkan.
Kami berlima mengucapkan selamat tinggal kepada Hydro Ocsigy dan Vitamin. “Selamat jalan Hydro dan Vitamin. Kami akan selalu merindukanmu. Ingatlah akan janji kita!” seruku.
Tak terasa, mukaku telah bersimbah air mata. Kemudian, aku mendengar bahwa Hydro dan Vitamin setelah melalui Colon akan ke dunia luar bersama dengan menggunakan feses sebagai transportasinya.
Kami berlima kemudian berkumpul melingkar sebelum diberangkatkan dan mengakhiri hidup kami. Aku kemudian berkata, “Teman, mungkin ini memang sudah merupakan jalan kehidupan kita. Takdir memang tak dapat diubah. Mungkin, jika kita sudah hancur, kita akan berguna bagi orang lain. Jangan bersedih! Tetap semangat! Mari kita akhiri perjalanan ini dengan hati ikhlas dan tenang. Semua teman-temanku kemudian menitikkan air mata dan kami saling berpelukan.
“Teman, mari kita berangkat dengan senyuman manis dan ikhlas hati!” semangatku. Mungkin ini memang akhir dari hidupku, tetapi aku berpesan kepada seluruh makhluk di dunia luar agar dapat menjadi sosok yang berguna bagi orang lain. Walalupun aku bertubuh kecil, aku dapat berguna bagi makhluk yang memasukkanku ke dalamnya. Hidupku memang hanya dalam hitungan hari, tetapi aku akan tetap bertekad agar dapat berguna. Setelah itu, Maltosa, Asam Amino, Asam Lemak, Gliserol, dan Gliserida pergi. Mereka dihancurkan dalam Ileum. Akan tetapi, semangat mereka untuk dapat berguna bagi orang lain merupakan sesuatu yang sangat mengharukan sekaligus membanggakan. Oleh karena itu, kita sebagai manusia seharusnya memiliki tekad agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara, dan agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar